Rabu, 25 Maret 2009

PEMIJAHAN IKAN DENGAN SISTEM CANGKRINGAN

1. PENDAHULUAN

Hypofisasi adalah suatu metoda untuk memeprcepat pematangan gonada

induk ikan agar berovulasi, yaitu dengan menyuntikan cairan kelenjar hypofisa

ikan donor ke dalam tubuh induk ikan yang akan dipijahkan. Sistem ini dikenal

dengan sistem pemijahan buatan, terutama untuk memijahkan jenis-jenis ikan

yang sulit berpijah (seperti: tawes, lele dumbo, grasscarp dll).

Akan tetapi di dalam sistem hypofisasi selalu diperlukan ikan donor (ikan mas)

yang harus dikorbankan untuk diambil kelenjar hypofisisnya. Oleh karena itu

untuk menghindarkan pengorbanan tersebut di BII Sentral Cangkringan telah

dikembangkan pemijahan ikan dengan “sistem cangkringan”, yaitu cara

pemijahan dengan menggunakan ikan mas yang dipijahkan bersamaan di

dalam 1 (satu) bak dengan induk ikan lain yang sulit berpijah. Cara tersebut

digunakan untuk merangsang berpijahnya induk-induk ikan lain yang sulit

dipijahkan walaupun telah matang gonad.

Seperti telah diketahui bahwa ikan mas selain merupakan donor universal juga

dikenal sebagai ikan yang mudah berpijah. Oleh sebab itu dalam cara inipun

yang dipergunakan sebagai ikan donor adalah induk ikan mas.

Dengan “sistem cangkringan” ini, ikan mas tidak perlu dikorbankan, bahkan

selain induk ikan mas dapat dipergunakan untuk pemijahan beberapa kali, telur

yang dihasilkannya dapat ditetaskan sebagai hasil sampingan.

2. TEKNIK PEMIJAHAN

1) Tempat pemijahan dapat berupa kolam atau bak semen ukuran 10 x 5 1 m

yang pada bagian atasnya dipasang pipa yang dilubangi untuk mengalirkan

iar selama pemijahan berlangsung.

2) Tempat pemijahan harusdibersihkan dan dikeringkan.

3) Pada tempat pemijahan dipasang happa. Ukuran happa untuk pemijahan

ikan mas adalah 4 x 2 x 1 m; untuk ikan tawes adalah 2 x 1 x 1 m dan untuk

lele cukup 1 x 1 x 1 m.

4) Setelah pemasangan happa selesai, alirkan air ke tempat pemijahan hingga

tinggi air dalam happa kira-kira 20-30 cm.

5) Pilihlah induk ikan mas yang telah matang telur. Masukkan induk ke dalam

happa. Perbandingan induk jantan dan betina adalah 2:1.

6) Untuk jenis ikan yang telurnya mempunyai sifat melakat/menempel maka di

dalam happa harus dipasang kakaban.

7) Masukkan induk-induk ikan lele dumbo, grasscarp, mola dll yang telah

matang telur ke dalam happa. Perbandingan indukjantan dan betina

tergantung dari jenis ikannya. Untuk ikan tawes perbandingan induk jantan

dan betina adalah 2:3 dan untuk ikan lele adalah 1:1.

8) Kemudian air dialirkan melalui pipa yang terletak di atas kolam sehingga air

masuk dalam tempat pemijahan seperti air hujan.

Gambar 1. Tempat Pemijahan Ikan Sistem Imbas di BII Sentral Cangkringan

3. PROSES PEMIJAHAN

1) Jika induk yang dipilih benar-benar telah matangtelur, maka pada malam

harinya akan memijah.

2) Induk ikan mas akan memijah terlebih dahulu. Beberapa saat kemudian ikan

lain akan terangsang untuk berpijah.

4. PENETASAN TELUR

1) Untuk telur-telur yang sifatnya melekat, cukup dibiarkan menetas dalam

happa.

2) Sedangkan untuk telur yang tidak melekat dapat ditetaskan pada corong

penetasan.

3) Tergantung dari jenis ikannya, beberapa hari kemudian telur akan menetas.

Kemudian larva-larva tersebut dapat dipindahkan dalam tempat (bak)

pendederan.

Gambar 2. Corong Penetasan

Gambar 3. Cara Penetasan Telur Ikan Dengan Sistem Corong

5. PENUTUP

Pada umumnya jenis-jenis ikan liar atau yang baru saja dijinakkan dari alam

sulit dipijahkan. Bahkan beberapa jenis ikan, seperti tawas, yang sudah lama

dikenal sebagai ikan budidayapun kenyataannya relatif sulit dipijahkan.

Tetapi setelah cukup lama dipraktekkan di BII Sentral Cangkringan, ternyata

sistem imbas dapat dipergunakan untuk mengatasi hal tersebut di atas.

Beberapa jenis ikan yang dapat dipijahkan dengan sistem cangkringan antara

lain adalah : tawes, grascarp, lele dumbo, dll.

Gambar 4. Persiapan Bak Pemijahan

Gambar 5. Pemilihan Induk Ikan Lele Dumbo yang Siap Memijah

6. SUMBER

Brosur Pemijahan Ikan dengan Cara Cangkringan, Proyek Infis, Dinas

Perikanan, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Yogyakarta, 1989.

7. KONTAK HUBUNGAN

Dinas Perikanan, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Yogyakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar